Pondok Pesantren Al-Barokah lahir pada tahun 2015 dari inisiatif mulia sekelompok mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yang ingin tetap menjaga dan mempertahankan hafalan Al-Qur’an mereka setelah tidak lagi tinggal di asrama kampus.
Tekad itu diwujudkan melalui kegiatan tahfidz di sebuah rumah sederhana di Merjosari, yang kemudian dikenal sebagai Ma’had Tahfidz Bilingual (MHB). Seiring bertambahnya minat para penghafal Al-Qur’an, Kiai Shobah membuka rumah kedua di Jalan Candi Badut, yang diberi nama Ma’had An-Nur. Dari kedua tempat sederhana inilah semangat pengabdian dan cinta terhadap Al-Qur’an terus tumbuh dan menguat.
Dengan dukungan berbagai pihak dan keyakinan yang mantap, pada 3 September 2017 secara resmi berdirilah Pondok Pesantren Al-Barokah. Sejak saat itu, pondok ini menjadi wadah yang mendidik generasi Qur’ani, tidak hanya untuk menghafal Al-Qur’an, tetapi juga untuk mengamalkan nilai-nilai luhur Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai pesantren tahfidz, Pondok Pesantren Al-Barokah memiliki sanad Al-Qur’an yang bersambung (muttasil) hingga Rasulullah ﷺ, melalui dua ulama besar Indonesia: KH. M. Munawwir Krapyak dari Yogyakarta dan KH. Munawwar Sedayu dari Gresik. Hubungan keilmuan ini bahkan diperkuat melalui koneksi dengan ulama internasional, memastikan metode pembelajaran Al-Qur’an yang diajarkan tetap autentik dan mendalam.
Selain fokus pada tahfidz, Pondok Pesantren Al-Barokah menekankan pentingnya Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (ASWAJA). Nilai-nilai yang ditanamkan kepada setiap santri mencakup At-Tawassuth (moderasi), At-Tawazun (keseimbangan), Al-I’tidal (keadilan), dan Tasamuh (toleransi), sehingga para santri tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana dan seimbang.
Dalam praktik fiqih, pesantren mengikuti Madzhab Imam Asy-Syafi’i dengan pendekatan terbuka terhadap perbedaan. Seluruh pembelajaran dilakukan dengan kasih sayang dan hikmah, sehingga para santri tidak hanya memahami hukum Islam, tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.